Tags

, , , ,

Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Cuaca di luar dilaporkan blaaa …blaaa …blaaa …” suara pilot singa udara yang membawa kami terbang dari Cengkareng, Jakarta menuju Nanggroe menyadarkan dari tidur-tidur ayam selama 2 jam yang cenderung senyap di udara. Senyap karena sepanjang perjalanan flight attendant hanya berhalo-halo saat hendak terbang dan memberikan petunjuk keselamatan lalu sang pilot menginformasikan kabar cuaca jelang pendaratan. O,ya .. satu lagi saat mereka mau jualan 😉

sultan iskandar muda

Pemandangan dari udara sesaat sebelum mendarat di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh

Dari balik jendela nun jauh di bawah daratan sudah mulai tampak meski sedikit berkabut, semoga hujan tak turun. Psstttt, yang duduk dekat jendela lagi mengharu biru ;). Perlahan singa udara menurunkan badannya hingga rodanya menyentuh bumi. Nyaris gak percaya bisa kembali ke Nanggroe, perjalanan yang tak pernah terbayangkan … “Terima kasih Tuhan, KAU ijinkan kami kembali (lagi) ke bumi Keumala!”

Bandara yang sebelumnya bernama Bandara Blang Bintang ini terletak di Blang Bintang, Aceh Besar dibangun oleh pemerintah Jepang pada 1943. Tahun 2007, Bandara Iskandar Muda dibangun kembali setelah terkena bencana tsunami dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada 6 Agustus 2009. Di pucuk bangunan bandara terdapat tiga kubah yang melambangkan tiga unsur keistimewaan Aceh: agama, budaya dan pendidikan.

Nama bandara tempat kami kini menjejak, diambil dari nama besar sultan yang semasa kepemimpinannya berhasil membawa Kesultanan Aceh ke masa kejayaannya, Sri Sultan Iskandar Muda yang memerintah pada 1607 – 1636. Bandara Sultan Iskandar Muda, dari sini langkah siap diayun menyusuri Jejak Keumala.

sultan iskandar muda

Menjejak (lagi) di SIM setelah 5 tahun dengan latar dua dari tiga kubah di atas bangunan bandara.

Setelah mengambil bagasi dan menuntaskan urusan ke kamar kecil, kami melangkah keluar bandara menemui Kak Linda yang rumahnya kami inapi dan akan menemani selama berada di Nanggroe. “Welcome home, Ibu” [Admin_PK].