Tags

,

Judul di atas mungkin akan membuat sebagian besar orang penasaran maksud dan tujuan memasang tulisan dengan judul tersebut. Bersahabat dengan Ajal, judul buku yang mungkin juga membuat orang langsung berpikiri isi buku ini pasti tak jauh-jauh dari cerita horor sebangsa film yang dibintangi si pocong dan kawan-kawannya. Saya justru tertarik untuk menelusuri isinya saat judul tersebut terbaca di deretan buku terbaru kala bertandang ke Gramedia beberapa waktu lalu. Dari sekedar cuci mata pulang malah menenteng buku padahal alokasi dana untuk buku bulan ini sudah habis hehe.

Hadiah Giveaway #PerempuanKeumala

Hadiah Giveaway #PerempuanKeumala

Sampaikan pada Tuhan kalau kamu ingin bertemu denganNya

Bersahabat dengan Ajal adalah memoar penulisnya, Anastasia Elisa Herman. Kisah perjuangannya untuk meneruskan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi hingga pengabdiannya menekuni profesi sebagai bidan saat mendampingi pasien menjelang ajalnya.

Untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, kalau laki-laki baru perlu

Lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menganut paham patriarki yang kuat, selepas sekolah menengah pertama orang tuanya memutuskan Elisa tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Untuk mendobrak dominasi patriarki yang merugikan kaum perempuan tersebut, Elisa bangkit dan membuktikan sebagai perempuan dirinya bisa melanjutkan studi meski tanpa didukung biaya dari bapaknya. Untuk biaya sekolah, Elisa mengumpulkannya dari memberi les kepada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya serta berjualan pakaian dari rumah ke rumah.

Selesai SMA, Elisa masuk Pendidikan Kebidanan di PK Sint Carolus Jakarta dengan pertimbangan biayanya masih sanggup dia bayar dan setelah lulus bidang pekerjaannya sudah jelas. Elisa mulai menekuni profesi sebagai bidan hingga menjadi kepala bagian kamar bersalin di salah satu rumah sakit besar di Jakarta.

Ketika terbuka kesempatan pendidikan penyetaraan D3 Kebidanan, Elisa terpanggil untuk kembali menimba ilmu. Tak gampang karena segala usaha yang dia lakukan untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik itu mendapat banyak tentangan. Sangat disayangkan karena tentangan paling berat justru datang dari atasannya sendiri yang berjenis kelamin perempuan,  disaat direktur rumah sakit yang seorang lelaki memberinya lampu hijau.

Kendala yang dijumpainya tidak membuatnya putus asa. Elisa berhasil menempuh  dan menyelesaikan pendidikan Program Penyetaraan D3 Kebidanan St Carolus sebagai lulusan terbaik. Elisa adalah bagian dari angkatan pertama para bidan yang menjalani pelantikan pertama Program D3 Kebidanan di Indonesia. Elisa yang lulus dengan predikat cum laude mendapat kepercayaan untuk menyampaikan kata sambutan di hadapan Menteri Kesehatan RI, para direktur rumah sakit serta atasannya yang hadir pada hari itu.

Sedih dan senang campur aduk dalam rasa Elisa. Di akhir pendidikannya Elisa terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya karena tidak kuat menahan tekanan dan pelecehan yang didapatnya dari kaumnya sendiri.

Di balik kesusahan dan putus asa pasti ada “jalan” penolong

Tak berselang lama selepas dari rumah sakit, Elisa mengambil keputusan untuk menerima tawaran menjadi perawat di Amerika.

Itu baru prolog bukunya 😉

Yang menarik dari buku ini adalah mengulas kejadian-kejadian yang dijumpai dan dialami oleh penulisnya selama menjadi bidan mendampingi pasien-pasiennya yang sudah di ambang kematian. Pasien-pasien kritis yang tinggal menunggu waktu, mereka tidak memerlukan tindakan medis lagi selain perhatian dan kasih sayang yang tulus dari orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Tentang bagaimana Elisa mendampingi orang-orang yang bukan keluarganya saat hendak mengakhiri perjalanan hidupnya. Mendoakan, merawat dan memberikan perhatian dengan tulus hingga ajal menjemput. Sangat menyentuh.

Hal menarik lainnya adalah adalah Elisa mendapat dorongan semangat untuk menuliskan dan membagikan kisah hidupnya yang inspiratif ini sesaat setelah bertemu dengan Nathalia Sunaidi, seorang hipnoterapis terkenal di Jakarta. Elisa menjalani hipnoterapi untuk meyakinkan dirinya seputar ada tidaknya karma yang terus mengusik benaknya. Kenapa setiap masalah dan tekanan tiada henti menghadang di depannya.

“Sebagian besar kejadian yang kita alami dalam hidup ini, tanpa kita sadari akan menerobos alam bawah sadar,”pesan Nathalia pada Elisa. Hipnoterapi adalah salah satu cara yang membantu kita untuk melihat past life (kehidupan masa lalu) dan future (masa yang akan datang).

ternyata Taman Firdaus itu sangat indah dan nyaman …

Bersahabat dengan Ajal adalah rangkuman kisah perjalanan hidup seorang bidan yang sangat inspiratif dan menjadi motivasi bagi perempuan. Wajib dibaca bukan hanya oleh perempuan tapi siapa saja yang ingin memahami makna hidup, pengorbanan, kasih, kesetiaan, keTuhanan, kekuatan doa dan pelayanan.

Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh kaum perempuan yang masih mengalami diskriminasi dalam kekeluargaan – [Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono]

Penasaran dengan bukunya? Yuk ikutan 2nd Giveaway #PerempuanKeumala, salah satu hadiahnya buku bagus ini. Saleum [Admin_PK]