Tags

, ,

Perjalanan pagi ini cukup seru, kami disambut hujan badai kala melaju di jembatan Krueng Cut, mengiring perjalanan hingga jelang Benteng Iskandar Muda. Puji Tuhan, matahari perlahan memunculkan raut wajahnya meski dilapisi sendu ketika kami mendekati Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar. Paling tidak tak perlu was-was melintas di sepanjang Krueng Raya yang licin dsiram hujan dan terkejut-kejut dengan tamparan angin di kaca mobil.

Melepas penasaran kami menepi ke Benteng Iskandar Muda meski gerimis sempat membuat langkah ragu untuk menjejak. Kembali ke benteng ini membawa kerinduan pada gadis kecil yang saya jumpai di gerbang benteng akhir Pebruari lalu. Gadis Kecil Penjaga Benteng, apa kabarmu? kenapa hari ini engkau tak datang ke benteng?

Usai menikmati benteng, perjalanan berlanjut menuju tempat IBU telah menanti, Benteng Inong Balee. Melewati Pelabuhan Malahayati, kami berhenti sejenak di sisi jalan yang menanjak; menikmati kesibukan di pelabuhan dari kejauhan sambil memandang ke luat lepas.

pelabuhan malahayati

Pelabuhan Malahayati dilihat dari atas bukit, pelabuhan yang telah ada sedari dulu. Lokasi pelabuhan yang sekarang telah bergeser, sedang lokasi awalnya ada di sisi kanan bawah bukit ini

Keumalahayati, Komandan Protokol Kerajaan Aceh Darussalam, istri Laksamana Mahmuddin bin Said Al Latief diangkat oleh Baginda Sultan untuk menggantikan mendiang suaminya menjadi Panglima Armada Selat Malaka yang gugur dalam pertempuran di Laut Haru. Setahun memegang jabatan sebagai Panglima Armada Selat Malaka, atas restu Baginda Sultan; Malahayati mengajukan pengunduran diri. Malahayati kemudian diangkat menjadi Panglima Armada Inong Balee, pasukan yang dibentuknya dan diperkuat seribu inong balee (=janda) prajurit yang gugur dalam pertempuran di Teluk Haru.

Jalan menuju benteng sangat lengang, tanaman perdu merambat hingga ke tengah jalan. Sekelompok sapi dan kambing dengan bebas tidur di tengah jalan yang sepi. Sesekali badan kendaraan menari mengikuti alunan jalan berlapis bebatuan yang bergelombang.

Menyusuri jejak yang tertinggal di Benteng Inong Balee

Menyusuri jejak yang tertinggal di Benteng Inong Balee

Rasa haru, rindu, kagum dan cinta melebur menjadi satu mengguncang sanubari, menggetarkan tubuh saat kaki kembali menjejak di Benteng Inong Balee. Di tempat ini Laksamana Keumalahayati membangun benteng pertahanannya bersama pasukan Inong Balee (=pasukan janda), mempersiapkan mereka menjadi prajurit yang tangguh untuk menggempur musuh.

Kuhirup udara benteng beraroma garam yang ditebar angin dari samudera. Menyerapnya dalam-dalam, nikmat menyesap hingga ke paru-paru. Menebar pandang ke segala penjuru sambil berbisik lirih,”IBU, kami pulang bawa sejuta rindu ‘tuk menjumpaimu di tempat ini!”

Aku berlama-lama di sini gak pa-pa ya?” Ibu menyorongkan pintanya sembari duduk di salah satu dahan pohon di bibir benteng.
Gak pa-pa Bu, puas-puasin deh.”
Eh, mau nyobain duduk sini? si IBU suka duduk di sini memandang ke laut lepas.

benteng inong balee

Akar pohon yang sudah berabad merambat di bebatuan di Benteng Inong Balee

Kami pun berbagi dahan dan meminta bantuan Kk Linda yang pagi itu menemani perjalanan ke Krueng untuk mengabadikan momen tersebut. Tiga perempuan berpencar menikmati benteng dengan caranya masing-masing. Ibu bertahan di dahan itu, Kk Linda berdiri tak jauh dari tempat Ibu berdiam. Dan aku melangkah sedikit ke utara memberi keleluasaan untuk Ibu melepas rindu pada IBU dengan tetap mengawasinya dari jauh.

Sebelum menjauh ke sisi utara bukit, panggilan Kk Linda menghentikan langkah,”Liv, badan kakak koq hangat ya? Tapi hanya sisi kanan ini seperti di bukit kemarin.”
“Perasaannya gimana kak? Gak berasa takut kan?”
“Gak pa-pa, hanya mendadak panas aja.”
“Kak, hangatnya dibawa IBU, dia ada di sini.
Kamu berasa juga ya? Tapi tempat ini sepi banget dan hanya kita bertiga lho di sini.”
Aman koq kak, aku ke ujung sana ya. Kalo ada apa-apa teriak aja

Benteng Inong Balee

Plang penanda tempat ini adalah Benteng Inong Balee, dengan pemandangan utara benteng ke arah Selat Malaka

Hmmmm … IBU, ya IBU. Kehadirannya mulai terasa semenjak kami memasuki gerbang benteng tadi. Dia mengawasi setiap gerak-gerik kami selama berada di benteng. Entah kenapa, tak terbersit khawatir meski hanya kami bertiga ditemani beberapa ekor kambing yang wara-wiri di sekitar benteng.

Benteng Inong Balee memang tersembunyi di bibir laut, jauh dari kawasan penduduk dan jalan besar yang di luar sana pun sepi. Wajar kalau Kk Linda khawatir. Tak lama kk Linda berjalan kembali ke arah kendaraan, tak kuat dengan panasnya udara.

Usai “bertapa”, Ibu menyusul ke sisi utara benteng. Berdua kami berdiri di ujung pondasi dari bebatuan yang masih tersisa, melepas pandang jauuuuuh ke samudera lepas, menikmati debur ombak yang menghempas sisi tebing.

benteng malahayati

Memandang jauh ke samudera lepas, berpijak di atas bebatuan yg tersisa di sisi utara Benteng Inong Balee

Senyap … berdiam menikmati semilir angin yang lembut menyentuh permukaan kulit dan memainkan ujung rambut.

“Makasih sudah membawaku kembali ke sini.”
“Sama – sama Bu, gak nyangka bisa kembali ke sini berdua dengan Ibu.”

Kami berpelukan dengan erat dan tanpa dikomando tawa kami pecah menghalau sepi yang sedari tadi melingkupi bukit. Aaah Tuhan, terima kasih telah menuntun langkah kembali ke tempat ini untuk mendulang rindu pada IBU. Saleum [Admin_PK]