Tags

, , , , ,

Kemarin siang saya menyempatkan diri untuk menikmati satu lagi karya tangan dingin Hanung Bramantyo, Soekarno. Sembari menanti jam tayang film, saya membolak-balik lembar Hatta, Aku Datang karena Sejarah; yang sehari sebelumnya diraup dari pajangannya di sebuah gerai buku. Menyelami pribadi bung Hatta lewat novel sejarah ini membuat rasa menyatu ketika melihat sosok beliau diperankan dengan apik oleh Lukman Sardi di layar lebar.

Secara kebetulan buku di tangan saya diawali dengan kisah mundurnya bung Hatta dari jabatan wakil presiden pada 1 Desember 1956. Hatta memboyong keluarganya kembali ke rumah pribadinya di Jl Diponegoro 57 meninggalkan segala “kenyamanan” seorang pemimpin, (kembali) memulai hidup sebagai warga negara biasa. Hatta mundur karena berselisih paham dengan Soekarno, sahabat Dwi Tunggalnya!

Ini bukan sekedar alasan “perempuan”, meski sangat bersimpati pada Fatmawati yang hidupnya seperti digantung bak layang-layang putus; sementara Soekarno makin masyuk dengan wanita lain. Bukan pula sekedar soal korupsi yang mulai mengganas  seperti singa muda lapar … Dwi Tunggal yang tidak mempunyai kekuasaan tidak ada gunanya.Siapa pun tak berkenan jika kehadirannya hanya dipandang sebagai bayang-bayang. Aku kembali ke sini karena sebuah sejarah. – [Mohammad Hatta]

Sejarah … ya sejarah, mari kita menengok perjalanan satu sosok perempuan tangguh dalam kehidupan Soekarno. Inggit Garnasih, namanya nyaris tenggelam, terhapus dan dilupakan dari catatan sejarah perjalanan bangsa ini. Soekarno, sukses membuat saya beberapa kali menyeka air mata yang meluap dari tanggulnya.

Inggit Garnasih

Ruang tamu Rumah Bersejarah Inggit Garnasih yang dihiasi dengan potret Inggit dan Soekarno

Bukan secara kebetulan jika film ini ditonton di bulan Desember dan kisahnya diawali di bulan Desember! pada 29 Desember 1929, Soekarno dan Gatot Mangkoepradja ditangkap di rumah Mr Soejoedi, Yogyakarta! Soekarno dibawa ke Penjara Banceuy sebelum dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Perjalanan hidup Soekarno pun bergantian dimunculkan di layar lebar, dari masa remaja yang sakit-sakitan hingga masa-masa menumpang sebagai anak kost di rumah HOS Tjokroaminoto.  Rumah di Gg Peneleh, Surabaya yang selalu ramai dihinggapi orang-orang pergerakan; dari sanalah Soekarno muda mulai belajar berorganisasi dan berorasi bagaimana menjadi seorang pemimpin yang pandai memikat hati rakyatnya.

Soekarno melanjutkan kuliah ke Bandung, menjalani kehidupan sebagai anak kost di rumah Inggit Garnasih. Benih-benih cinta tumbuh di antara induk semang dan anak kost yang terpaut usia 13 tahun itu. Pada Inggit, Soekarno menemukan sosok seorang ibu yang menghangatkan, melindungi, mengayomi sekaligus teman untuk berbagi kasih. Saat menikahi Inggit, Soekarno menandatangani sebuah surat perjanjian yang berisi pernyataan yang diminta oleh H. Sanusi, suami Inggit bahwa: Soekarno tidak akan menyakiti Inggit.

Inggit Garnasih

Ulekan jamu, sumber penghasilan Inggit untuk menopang ekonomi rumah tangganya dengan Soekarno

Inggit adalah pengobar semangat Engkus, panggilan sayang Inggit pada Soekarno. Selama Soekarno dalam penjara, Inggit setia menempuh perjalanan sejauh 30km dari Ciatel ke Sukamiskin menjenguk Soekarno dengan berjalan kaki untuk mengirit ongkos. Inggit adalah sumber informasi dan pengamat jitu segala yang terjadi di luar bilik penjara. Meski pemeriksaan ketat diberlakukan di sana, Inggit berhasil mengecoh sipir penjara dengan menggunakan Alquran dan telur rebus sebagai media komunikasi untuk menyampaikan situasi di luar.

Telur yang dibawa Inggit terlebih dahulu telah ditandai dengan tusukan halus di luarnya. Satu tusukan berarti situasi aman, dua tusukan artinya seorang kawan tertangkap, bila ada tiga tusukan menandakan adanya penyergapan besar-besaran terhadap aktivis pergerakan. Hal yang sama juga dilakukan pada Alquran, jika kiriman buku diterima pada 17 Mei misalnya, maka Soekarno akan membuka surat Alquran kelima halaman 17 dan mencari lubang-lubang kecil dibawah huruf tertentu dari bagian tersebut agar membentuk rangkaian kalimat.

Ketika menjalani masa-masa pembuangan ke Ende hingga Bengkulu, Inggit pun setia mendampingi Soekarno. Hingga terulanglah kembali peristiwa ketika Soekarno mengembalikan Oetari ke H.Tjokroaminoto untuk menikah dengan Inggit. Soekarno yang selalu memikat hati perempuan, kali ini jatuh hati pada Fatmawati yang dititipkan orang tuanya di rumah mereka. Hasratnya pun disampaikan kepada Inggit, alasannya adalah dirinya menginginkan keturunan; hal yang tak mungkin didapatnya dari Inggit.

Inggit Garnasih

Surat Nikah Soekarno dan Inggit Garnasih

Soekarno tak berniat menceraikan Inggit, namun Inggit tak rela dimadu! sebagai seorang perempuan, seorang Ibu; dirinya rela mengorbankan segenap rasa hatinya demi Engkusnya tersayang. Inggit undur dari kehidupan Soekarno, kembali ke keluarganya di Bandung. Hatinya sakit, namun dia tetap harus kuat, dirinya tak bisa menerima kenapa Fatmawati? Dia seperti anakku sendiri. Aku anggap dia anakku sendiri. Sedang bagi Fatmawati, Inggit adalah pesaing beratnya. Fatmawati tak terima dibanding-bandingkan dengan Inggit ketika melihat Riwu anak angkat Soekarno-Inggit memandangi potret Inggit karena merindukan ibunya di depan dirinya. Dibakarnya potret Inggit, Riwu pun pergi dari rumah menyusul Inggit ke Bandung.

‘Ngkus, geuning Ngkus teh miheulaan, ku Inggit didoakeun …” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Inggit di depan jasad Soekarno, mantan suaminya. Baginya Soekarno adalah cinta sejati, mantan suami yang sangat dicintai dan dibanggakannya. Setelah bercerai, Soekarno sekali menyempatkan menjenguk Inggit yang sakit-sakitan pada 1960 di Bandung.

Setelah 39 tahun tak bertemu, pada 7 Pebruari 1980 Fatmawati dipertemukan dengan Inggit atas prakarsa Ali Sadikin. Empat tahun kemudian, Inggit yang menghabiskan masa tuanya di Bandung menyusul Soekarno ke alam baka pada 13 April 1984 di usia 96 tahun. Inggit dimakamkan di pemakaman umum Kopo tanpa upacara layaknya melepas seorang pahlawan yang berjasa membentuk pribadi tangguh seorang tokoh Proklamator.

makam Inggit Garnasih

Makam Inggit Garnasih di Pemakaman Umum Kopo, Bandung

Soekarno aktif berpolitik sejak duduk di bangku sekolah hingga lulus kuliah. Lalu dirinya menikah dengan Inggit Garnasih setelah menceraikan Oetari putri Tjokroaminoto. Mereka tinggal di rumah Inggit, selama di penjara Inggitlah yang membanting tulang menjual kutang dan jamu untuk menopang ekonomi keluarga.

Tanpa bermaksud mengesampingkan kharisma dan jasa seorang pemimpin bangsa, mari kita mencoba memutar otak dengan seksama. Dengan menilik pengorbanan Inggit Garnasih, di posisi mana engkau tempatkan perempuan ini dalam hidup dan perjalanan seorang Soekarno hingga menggapai gerbang kemerdekaan dan kejayaan yang bertabur bunga?

… sesungguhnya aku harus senang karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, gerbang hari esok yang pasti akan lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai. [Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang – Ramadhan KH.]

Jakarta, 24 Desember 2013
Sebuah catatan yang disempurnakan dari tulisan Jejak Cinta Inggit Garnasih Mengantarkan Singa Podium ke Gerbang Kemerdekan.

Behind every  great man there is a strong and a greater woman, sebuah ungkapan yang sering membuat kaum lelaki merasa disepelekan. Mari berpikir bijaksana, menelaah kembali alasan Tuhan membentuk perempuan setelah diciptakannya lelaki. Kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak sepenggalan. Selamat hari Ibu! Saleum [Admin_PK].