Tags

, , , ,

Aku Inggit, sampai akhir hayatku aku tetap mencintaimu … satu kalimat pamungkas disambut tepuk tangan penonton yang sedari awal tak bergeming di bangku masing-masing menyudahi penampilan Happy Salma di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (10/05/2014) lalu.

Inggit, Sebuah Monolog oleh Happy Salma menghipnoptis penonton yang memenuhi lantai satu dan dua Teater Jakarta malam minggu lalu. Happy Salma yang memerankan sosok Inggit Garnasih, istri kedua Soekarno; dengan lugas membeberkan kehidupan dan perjalanan kasihnya dengan Soekarno, seorang mahasiswa yang menumpang di rumahnya.

Inggit Monolog

Salah satu adegan Inggit Monolog yang dimainkan oleh Happy Salma

Soekarno pemuda penuh semangat yang getol berorganisasi hanya dituntut Inggit untuk belajar, belajar dan belajar yang rajin agar dapat menyelesaikan studinya dengan baik. Semua biaya hidup mereka berdua Inggit yang memutar otak untuk memenuhinya meski harus berjualan jamu, kutang hingga mengutang kepada tetangga ketika duit di tangan telah habis.

Eleuuuh, kunaon Engkus memandang begitu? Ooooh, ini buat jajan,” mengerti apa yang dinanti Kusno yang masih saja terpaku di depan pintu sesaat setelah pamit dari hadapannya; Inggit merogoh kutangnya mengeluarkan selembar uang, menyematkannya ke genggaman Soekarno muda.

Inggit menuturkan sejak kedatangan Kusno, entah kenapa Kang Uci suaminya mulai jarang terlihat di rumah. Inggit dan Kusno panggilan sayang untuk Soekarno, sering bercengkerama berdua hingga larut malam. Ternyata seorang lelaki hanya butuh untuk didengar apa yang dirasa, hingga kami kehilangan kata dan tubuh yang berbicara. Penggambaran asik masyuknya Soekarno dan Inggit ditampilkan lewat adegan para penari yang menari-nari di seputar ranjang di tengah – tengah pentas.

Inggit Monolog

Penggambaran kemesraan Soekarno dan Inggit

Kalau mencintai harus dengan keras kepala, aku berdiri di depan penjara berhari-hari, berminggu-minggu hingga 40 hari baru diijinkan bertemu dengan Kusno!

Inggit adalah spionase yang hebat! Komentar seorang pengamat sejarah yang berbagi kisah saat kami berkunjung ke sel TA01(dahulu sel 233), sel yang dihuni oleh Soekarno selama menjalani masa tahanan di penjara Sukamiskin, Bandung. Silakan baca ulasannya di SINI dan di SANA kenapa komentar itu meluncur dari bibirnya.

Ketika menjalani masa pembuangan ke Ende hingga Bengkulu, Inggit dengan setia mendampingi Soekarno melewati hari-hari berat tanpa pernah mengeluh. Sampai pada satu masa, disadarinya cara memandang Soekarno yang berbeda terhadap Fatima, gadis yang dititipkan oleh orang tuanya di rumah mereka. Itu bukan cara memandang seorang bapak kepada anaknya … Inggit teringat bagaimana awal pertemuan dan kedekatannya dengan Kusno. Aaaah, sejarah berulang, apakah ini karmaku? Inggit sangat mengerti, permintaan yang satu itu tak dapat dipenuhinya; melahirkan anak bagi Soekarno!

Inggit Monolog

Inggit menuturkan kehidupan di Bengkulu dengan backdrop potret keluarga di Bengkulu tampak Fatmawati duduk di kiri bawah

Setelah semua perjalanan itu ditempuh bersama, mereka berpisah di gerbang impian, gerbang kemerdekaan. Dengan berbesar hati, dilepasnya lelaki kesayangannya itu melangkah bersama perempuan lain untuk menerima taburan bunga dan puja-puji dari mereka yang mengelu-elukannya. Inggit tak rela dimadu, dirinya minta dipulangkan ke keluarganya di Bandung.

Perempuan yang telah berjuang dengan segenap raga, jiwa dan sabarnya, akhirnya harus rela mengorbankan rasanya. Kisahnya buram, hanya sebatas catatan kaki dari perjalanan seorang pendiri bangsa ini yang tak banyak dikenal oleh masyarakatnya sendiri. Inggit Garnasih, Perempuan [Hebat] di Tepi Sejarah Indonesia sebuah monolog yang diangkat dari Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.

Inggit Monolog

Pelampiasan kemarahan Inggit kala Soekarno meminta ijin untuk menikahi Fatima

Tak diragukan jika penampilan Happy Salma malam itu totally out! Penggambaran karakter seorang Inggit berhasil memukau penonton lewat tutur bahasa yang kadang polos nan lugu saat menghadapi seorang lelaki tinggi besar gagah, berpendidikan, daun muda yang jatuh cinta padanya. Didukung dengan tata panggung sederhana berupa serangkaian bangku dan meja di ruang tamu dan sebuah ranjang untuk melukiskan rumah Inggit di Ciatel dan rumah Bengkulu. Backdrop berupa layar yang bergantian menampilkan potret tempat-tempat bersejarah dalam kehidupan Soekarno dan Inggit pun membawa penonton larut ke masa pra kemerdekaan. Suasana pun dihidupkan oleh penampilan para penari dan pemuji yang dimunculkan di beberapa adegan.

Inggit Monolog

Aku Inggit, sampai akhir hayatku aku tetap mencintaimu

Tanpa bermaksud membandingkan karakter Inggit yang kurang menggigit saat diperankan oleh Maudy Kusnaedi dalam film Soekarno, Happy Salma yang memang bergelut di teater berhasil mengangkat dan menjiwai karakter Inggit yang sebenarnya. Kenapa? Cobalah susuri jejak-jejak Soekarno di Bandung, tengok dan rasakan sumpeknya sel di Sukamiskin terlebih Banceuy. Bayangkan perjuangan seorang perempuan demi tetap utuhnya impian kekasih hatinya, rela berjalan puluhan kilo meter; keluar dari pintu rumahnya di Ciatel menghitung langkah hingga penjara Sukamiskin. Tak peduli panas terik atau hujan, semua dilakukannya demi Kusnonya tersayang.

Dan, jika Anda pernah membaca kisah seorang perempuan hebat yang terpinggirkan dalam catatan perjalanan bangsa Indonesia; duduk diam selama 120 menit di dalam ruang teater yang dingin tanpa merasa kedinginan walau tak mengenakan baju hangat dan tak melepas pandangan sedetik pun ke atas pentas, Anda layak mendapat bintang. Bahkan menggeser pantat barang sejenak pun rasanya tak sempat. Saleum! [Admin_PK].