Tags

, , , , , , , ,

… Senja yang Ceria …
Mencoba menghalau resahnya, Keumala melangkah ke sana kemari, memeriksa persiapan laskar Inong Balee. Paduan baju kurung merah, celana cekak musang berwarna hitam dan sarung kuning menyala membalut tubuh mereka. Sepasang subang[1] keemasan tersemat manis di daun kuping, simplah[2] menggantung dari leher menjuntai di dada. Pula tak ketinggalan pending[3] menopang di pinggang serta rambut digelung berhiaskan kembang goyang. Hari ini mereka bersolek ceria.

Pada seorang perempuan belia langkahnya berhenti. Jemarinya dengan cekatan membenarkan kembang goyang di kepala laskarnya. Kembang sepuhan emas itu tampak indah bergoyang mengikuti ayunan lincah kaki si empunya kepala.

Tangannya memberi isyarat kepada para inong balee, mengajak mendekat ke tempatnya berdiri.

Hai inong sekalian … hari ini adalah hari yang akan tercatat dalam sejarah perjalanan masa.” Keumala menarik napas panjang sebelum melanjutkan amanahnya.
Seorang yang terpilih dari kaum kita akan menuturkan pada dunia, segala yang pernah kita jalani di sini. Tetesan keringat, lelehan air mata, kaki yang melepuh tercabik bebatuan, hati yang luluh lantak, darah yang tertumpah dan mengering merembes ke dalam tanah serta sengat semangat yang bangkitkan asa tak kan pernah kembali dengan sia-sia.”

Matanya menyisir satu per satu laskar inong balee yang berbaris rapi di hadapannya sembari merapikan letak simphlah dan menarik baju kurung hitamnya yang sedikit terangkat. Dengan ujung telunjuk, disekanya setetes air yang tersangkut di sudut matanya.Haru tak dapat ditampiknya.

inong balee

Laskar Inong Balee

Mari memulai sesuatu yang baru. Mengisi lembar perjuangan dengan semangat baru untuk berbagi pada sesama. Buktikan pada dunia, engkau bukan kaum yang lemah, yang bisa dipermainkan karena rasa. Bangkitlah hei Inong Nanggroe! Pertiwi menunggu langkahmu!”

Untuk IBU!” pekiknya menggelora, membakar semangat laskarnya
Demi generasi Keumala!” sambut para teruna itu tak kalah menggegap.
Demi Masa!” sorak mereka menggema dengan tangan terkepal ke udara. Senyum sumringah menghiasi bibir-bibir yang dihiasi gincu merah menyala.

Dihampirinya satu per satu inong yang mulai mendesing bak lebah. Aaaah, darah muda; pikirnya. Ditepuknya dengan bangga bahu mereka satu demi satu, mengalirkan energi, sengat semangat untuk teruskan perjuangan.

Keumala mengayun langkah mendekati undakan kayu yang telah disiapkan. Di depan para tetamu yang sengaja diundang untuk menjadi saksi perjalanan masa, terpatah-patah lidahnya bertutur akan karya yang segera kan dibantai masa, sedetik setelah dia sampai ke tangan para pemujanya. Sebuah karya yang telah menyerap sebagian besar waktu tidurnya, semoga menjadi cahaya bagi para pencari tuturan bermakna.

Air mata haru mengalir, senyum bangga merekah, pelukan hangat mendekap pun setitik ragu perlahan turut membelai hatinya. Semoga … semoga … dan semoga, tuturnya memberi makna bagi sesiapa saja yang merengkuhnya. Selamat mengarungi perjalananmu Nak, jadilah penerang di lautan para pencari kisah panjangmu.

Tiga bulan berlalu, langkahnya mulai terseok, napasnya tersengal-sengal. Kepala tak lagi tegak, sedikit merunduk, menyelami detik demi detik yang berlalu tanpa banyak bertutur. Energinya sirna tak berjejak, tersedot perut bumi. Dalam hitungan warsa, sengat semangatnya yang dulu menggelora … mati suri. Maafkan Ibu, Nak!

… enam tahun berlalu …

Di satu pagi yang indah, Keumala tersedak dari tidur panjangnya. Sepasang langkah tergopoh-gopoh menggedor alam sadarnya. Berkhayalkah dia, tersadarkah dirinya? Dikucek-kuceknya mata agar terjaga.

Duuuuh!” jeritnya tertahan, perih merembesi ujung matanya. Oh maaaaak! sisa bongkahan bara menghitam di jemari dan telapak tangannya. Sekian lama bara itu digenggamnya, menahannya agar panasnya tak membara. Dirinya hanya ingin mendekapnya sendiri, menjaganya tak melalap jemari mungil belahan jiwanya yang lelap di sisi pembaringannya.

Bergegas ditinggalkannya tilam petidurannya, seperti ada yang mengejar-ngejar alam pikirnya. Siapa gerangan pengacau lelap panjangnya? Tergopoh-gopoh langkahnya berkejaran mendekati jendela bilik, membukanya lebar-lebar. Mentari pagi menyerobot masuk dengan senyum lebar menghujani wajahnya dengan ciuman lembut.

Selamat pagi semesta, rindu hati untuk bercengkerama denganmu,” sapanya riang. Diedarkannya pandang menyusuri setiap sudut bilik, matanya bersirobok dengan selembar kertas lusuh yang terselip di kaki pintu.

Jangan pernah kau dekati BARA itu … bila tak yakin dirimu mampu menghindari jilatan dahsyatnya kobaran api yang akan melumatmu dalam sekedip mata …

Jangan pernah kau biarkan seorang manusia terbakar sendirian, atas BARA api yang telah dibakar bersama-sama … Pikirkanlah kembali … [EM, Medio 2013]

Matanya tercekat menatap kertas lusuh yang menjadi hitam dan lecek dalam genggamannya. Kata-kata itu terus menggema, menalu dalam batok kepalanya.

Pikirkanlah kembali …!” Hmmm …pesan tanpa pengirim, hendak bermain-main rupanya dengan pagi indahnya.

Pikirkanlah kembali … dua kata yang terus mengikuti pikirannya sepagian itu. Digeretnya langkah keluar bilik, rindu hatinya menyapa ikan-ikan di kolam pelataran rumahnya. Disebarnya remah-remah roti ke dalam air, memanggil ikan-ikan mendekat.

Pikirkanlah kembali … dua kata yang kembali mengiang dalam kepalanya, menampar hingga gendang telinganya turut mendengungkannya. Ikan-ikan melihatnya terbengong di bibir kolam. Belumlah lepas dengungan di kepalanya, tetiba sesosok bocah perempuan telah bergelayut manja memainkan ujung kainnya. Tanpa ba bi bu, tapak tangannya telah menjadi mainan si bocah ingusan. Dikitik-kitik, diusap-usap seakan hendak dipretelinya lepuhan kulit bekas luka terbakar bara di tapak tangannya.

Tapak tangan Ibu melepuh habis terbakar, jemarimu hitam karena menggenggam bara. Takkah sakitnya memerihkan hati?”

Hmmm … tahu apa kamu tentang BARA? Bocah kemarin sore mau mengajari aku? Sengit hatinya mendengar celotehan si bocah namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Direlakannya tapak tangannya menjadi mainan si bocah, ada yang hilang di sana. Yaaaa … rasa gatal dan perihnya menghilang, mungkinkah ujung jemari anak ini mengandung obat yang mujarab?

“Energi negatif itu serupa dengan BARA yang dapat menjadi pisau bermata dua, tergantung ujung mana yang kita genggam. Bila kau genggam dia yang menyala membara, kulitmu akan melepuh, dagingmu bisa matang dibuatnya. Tapi tengoklah ia, ketika diperlakukan dengan manis oleh tukang sate di pinggiran taman Ayodya sana. Hmmmm … merahnya membakar potongan kecil daging berbumbu yang tersusun rapi di atasnya, menghasilkan aroma yang menggoda enzim pencernaan hingga tak sabar untuk mencicipinya.

Elusan jemari si bocah memberi rasa nyaman menjalar dari ujung-ujung jari Keumala, merembes hingga ke dinding hatinya. Andai bocah ini yang pertama melihat lukanya, tak perlulah ia ke tabib demi menebus lelehan salap yang tak jua menyembuhkan lukanya.

Seakan membaca pikirannya, bocah ingusan itu terus saja berceloteh, menyudutkan gejolak jiwanya. Si bocah menangkupkan kedua tapak tangannya, berusaha menggenggamnya dengan tapak tangan kecilnya. Tanpa ragu bocah itu menciumi tangannya, tak peduli borok lukanya masih belum mengering sempurna. Dibawanya tapak penuh luka itu menempel ke dadanya, hingga dirasanya detak jantung si bocah yang mengalun berirama.

Seandainya energi negatif yang tersembunyi dalam pikiran manusia dirajut menjadi ide kreatif dan ditarikan menjadi karya yang berguna bagi sesama, alangkah indahnya dunia ini ya Bu. Kata Ibu saya, jangan bermain-main dengan BARA, bila tak siap dilumat olehnya … pikirkanlah itu!

Keumala kehabisan kata di depan bocah ingusan yang menguliti rasa dan alam pikirnya. Bibirnya terkunci, emosinya bergejolak. Tepat saat si bocah bangkit dari duduknya, tangan Keumala terayun hendak menumpahkan emosi pada tubuh ringkih si bocah yang menatapnya dengan paras tanpa dosa,tersenyum lebar di mukanya.

Kamuuuuuuu!” energi yang siap dihempaskan berubah menjadi usapan lembut di kepala si bocah. Hatinya bingung dialiri rasa teramat sayang, hingga direngkuhnya si bocah dalam pelukannya.
Namamu siapa? koq bisa masuk ke pekaranganku?”
KASIH. Kulihat gerbangnya terbuka jadi aku masuk saja dan mendapati Ibu yang lagi duduk sedih di kolam ini.”
Kamu tahu tak boleh masuk seenaknya ke halaman rumah orang tanpa ijin?” kepala mungil itu mengangguk-angguk, matanya berkedip menatap lembut delikan mata Keumala.
Kamu tidak takut diusir?” Kepala bocah itu menggeleng manja
Aku tidak mencuri dan tidak merusak pekarangan rumah Ibu, jadiiii kenapa harus takut?”

Dasar bocah tak tahu diri! Kau tak tahu, hadirmu telah mencuri HATI-ku, menelanjangi maluku dan mengisi pagiku dengan petuah sok tahumu yang menyadarkanku betapa … INDAH-nya KASIH itu.

perempuan keumala, benteng inong balee

Goresan masa @Benteng Inong Balee

Kasih berlari-lari kecil mengitari kolam, membagikan senyumnya pada semesta, mengajak ikan-ikan menari. Bibir mungilnya melantunkan sebuah lagu mengajak hati turut berdendang …

Hati yang gembira, adalah obat. Seperti obat hati yang senang. Tapi semangat yang patah, keringkan tulang, hati yang gembira, Tuhan senang. [Amsal 17:22]

Sebelum menghilang di balik gerbang, si bocah menghentikan langkah kecilnya dan berpaling pada Keumala yang masih terduduk di bibir kolam, menghadiahkan senyum terindahnya sembari berteriak lantang … BARA, pikirkanlah kembali!

Keumala tersadar, serasa lepas dari hipnotis. Buru-buru dilihatnya tapak tangannya. Tak ada lagi luka melepuh di sana, ujung jemarinya pun bersih! Tak habis pikirnya dengan segala yang terjadi pagi ini. Dibakarnya sebatang kretek yang diraup dari lipatan kainnya, mengisap nikotin yang terbakar dan mengeluarkan gelembung putihnya ke udara.

Pikirkanlah kembali …” Keumala melesat kembali ke dalam bilik, didapatinya belahan jiwanya masih pulas di samping pembaringannya.

Hmmmm … Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengarungi masa, banyak yang telah terjadi. Semoga energimu masih cukup untuk kembali melintasi masa di depan sana. Bangkit, bagikanlah sengat asamu, tarikan mimpimu. Pikirkanlah kembali, ya .. mari bersama pikirkan kembali langkah untuk merajut titian masa yang terindah dalam mengarungi kehidupan ini. Tebarkan BARA semangat untuk menginspirasi sesama. Banggaku melahirkanmu, selamat ulang tahun, Nak!

Mampang, 26 Agustus 2014 pk 03.53
…mengenang perjalanan masa … 27 Agustus 2008 – 2014

*oretan yang terinspirasi dari status mbak Ary Hana [Admin_PK].

—-
[1] subang = anting
[2] simplah = sejenis kalung keemasan sebagai pelengkap pakaian perempuan adat Aceh
[3] pending = ikat pinggang keemasan untuk mengikat sarung pada pakaian perempuan adat Aceh