Tags

, , , , , , ,

Setelah menunda-nunda selama dua tahun, Oktober lalu akhirnya pulang juga ke Nanggroe. Pulang tanpa pamit pada siapa pun. Aku takut menjawab tanya bertubi yang kan digelontorkan kenapa ingin bersendiri ke Nanggroe? Kenapa mendadak? Kenapa dan berjuta kenapa lainnya yang akan menyusul setiap kenapa. Pulang setelah tak tahan lagi menahan kerinduan yang luber kemana-mana. Pulang tanpa mengatakan kepada siapa pun ke mana aku akan pergi, tidak juga dirimu yang masih saja senang menyepi. Aku hanya ingin menikmati bersendiri, menautkan kembali rindu yang berulang kutampik hadirnya. Rindu yang menggulirkan tetes air yang memanas di sudut mata saat pandangan menyapu biru lautmu, hijau bebukitanmu dan riang air di sungaimu dari udara.

IBU ….
Kata yang terucap saat kembali kuhirup napasmu yang kau hembuskan lewat belaian udara pagi. Sepatah kata yang merontokkan semua emosi yang tertahan selama ini. Hingga bendungan pertahanan itu pun meluapkan airnya yang menderas di pipi di jelang pesawat yang membawaku menjejak di bumimu.

IBU …
tahukah engkau?
terkadang aku meragu dengan semua ini?
akan kemana langkah ini diayun, bila jalan yang ditempuh kembali samar?

bukit_malahayati_2015

Bukit Malahayati, Oktober 2015

jangan kau tahan bila air mata kan mengalir
jangan kau tabung amarah di dalam dada
alirkan dengan hati lapang
agar tak bersisa dan membekas menjadi luka
yang dalam dan bernanah
agar tak pecah menjadi perseteruan

Anakku,
ingatlah untuk selalu setia padaNYA
berjalan pada jalanNYA
jauhi laranganNYA
jangan balaskan dengki dengan amarah
tumbuhkan dan sebarkanlah benih kasih sepanjang hari
kepada semua yang kau jumpai

mengasihi tanpa pamrih
mengasihi dari hati
mengasihi dengan tulus

jangan lelah untuk teruskan langkah
restuku kan selalu menemani
meski jalanmu tak kan mudah
jangan pernah bimbang selama hatimu tak dicemari
dengan iri, dendam dan amarah

percaya, pintu kan selalu terbuka untuk melangkah
terima kasih telah memenuhi panggilanku
kutitipkan semangat pada generasiku lewat langkahmu

teguhkan hatimu Inong!
jangan cengeng!

Bukit Malahayati, Lamreh
Jumat, 23 Oktober 2015 pk 15:15

Aku pun sadar, terkadang harus hancur dan lebur untuk kembali menemukan semangat agar bisa tegak dan melangkah dengan energi yang dibaharui. Kesadaran yang membuatku mengambil keputusan untuk pulang menemuimu pagi itu. Pulang untuk menumpahkan semua yang tersangkut di dalam sanubari, pulang untuk kembali yakinkan hati, teguhkan langkah dan menautkan rasa yang memudar.

Kepulangan yang tak dinyana melahirkan kepulangan kedua dan sepertinya akan terus berlanjut dengan kepulangan lain demi mewujudkan asa. Ijinkan aku untuk menerima panggilanmu dan meneruskan langkah untuk generasi masa.

benteng_inong_balee_2015

Benteng Inong Balee, Desember 2015

IBU,
cinta ini tak kan lekang oleh jarak
cinta ini tak kan punah oleh waktu
engkau selalu ada dalam jiwaku, dalam darahku, dalam napasku

Pesanmu telah kusampaikan padanya yang kan bersama melangkah. Pada semangatmu aku bersetia, atas tuntunan dan KasihNYA kami kan melanjutkan langkah meski jalan di depan berliku. Restumu penyemangat jiwa, dengan bergandengan tangan kekuatan kami bangun, untuk Nanggroe kami melangkah, demi masa. Saleum [AdminPK].