Tags

, , , , , , ,

Secangkir hazelnut panas baru saja terhidang di atas meja tempatku mengaso di sebuah kedai coklat di Banda Aceh. Malam beranjak pekat. Dirinya datang memberi salam lalu duduk sesuka hatinya di bangku di seberang meja. Rambutnya keriting, tubuh mungilnya menggelembung terbungkus jaket tebal, dan mulutnya tiada henti berceloteh tak beraturan meski kantuk menggantung di matanya. Pendengaranku kurang peka pada setiap kata yang mengalir dari bibirnya, caranya bertutur  dan berbincang dengan abangnya membuatku tersenyum. Sesekali aku mengggodanya, membuatnya mencibirkan bibir dengan mata tak lepas dari mainan yang ada dalam genggamannya. Ketika tiba waktunya kami harus berpisah, tetap tak banyak yang kami bincangkan namun dengan bersemangat dia memberi salam perpisahan sembari melambaikan tangan,”Daaaaaaag.” Kantuknya sudah tak tertahankan, matanya mengerjap-ngerjap, membuat muka polosnya semakin menggemaskan.

Dua bulan berlalu, mendadak ada panggilan pulang ke Aceh. Kami pun bersua lagi di kedai kopi di jantung Banda Aceh. Masih di jelang pekatnya malam, dirinya diajak ayahnya menemani ke kedai. Abangnya tak turut, “Dia baru bangun tidur, dari pada berantem, yang satu diajak jalan,” kata sang ayah ketika kulihat dirinya sedikit rewel. Tetap tak banyak bicara, hanya memainkan mata dan memonyongkan mulut ketika digoda. Keritingnya? Masih sama.

bukit lamreh, jejak sejarah Aceh, asal usul kesultanan Aceh

Mendaki Bukit Lamreh

Semua berubah pagi ini. Di dalam mobil, dirinya berceloteh dengan riang. Sebagian tuturannya dapat dicerna, sebagian besar hanya membuatku tersenyum bahkan terbahak. Tak habis energinya melompat ke sana ke mari. Berpindah dari bangku belakang ke bangku depan. Dia menemukan dunianya, dia senang berjalan, dia rindu melihat laut dan mendaki gunung. Sepanjang perjalanan menyusuri Krueng Raya menuju Lamreh; berdua abangnya, mereka tiada henti bertanya kapan bisa melihat laut? Kenapa hanya di mobil, kapan naik gunung? Namanya Balqis, usianya baru genap 2 tahun namun celotehnya bak orang dewasa saja. Abangnya Ziyad, tak kalah pandai bertutur tentang tsunami, tentang perjalanan mereka menyusuri bebukitan dan serunya mandi di laut. Usia mereka hanya terpaut setahun.

Melihatnya dalam riang, aku teringat padamu Cut Dek. Usia kalian taklah jauh, celotehmu pun tak kalah girang. Terkadang tuturanmu melampaui usia membuat orang dewasa termangu, dan ketika mereka tersadar, engkau telah kembali menjadi kanak-kanak yang polos dan menyenangkan. Melintasi Ujong Batee, energi itu membangkitkan memori ketika berdiri gusar di bibir pantai saat pertama menjejak di sini dengan mata basah. Di tempat engkau terenggut dari pelukan IBU. Apa kabarmu, Cut Dek?

jejak sejarah Aceh, bukit lamreh, asal usul kesultanan Aceh

Perjalanan menyurusi jejak masa (dok. Aceh Adventure)

Tante, adek mau itu,” si Kriwil membuatku tersadar dari lamunan dan mengangsurkan biskuit lemon padanya. Mobil terus melaju. Indra Patra, Sultan Iskandar Muda, pelabuhan dan Bukit Malahayati, Inong Balee; tempat pertemuan di Lamreh, kita lewati. “Bang, kita berjalan ke tempat terjauh dahulu, pulangnya baru mampir ke tempat IBU,” seruku pada bang Faisal yang mengantarkan dan menemani kami berjalan.

Dari jalan beraspal yang mulus, kami berbelok ke jalan berbatu yang membuat badan berguncang-guncang digodog di dalam mobil. Pada jalan menurun yang memisahkan daratan dan laut, kami pun berhenti. Mengunci kendaraan dan bersiap untuk mendaki.

Kulirik tingkah si Kriwil ini. Jiwa tualang mengalir di dalam darahnya. Melihatnya mulai mengantuk, dia menurut saja digandeng Bundanya untuk meneduh di bawah pohon di dekat pantai. Abangnya sedikit keras kepala, melihat kami bersiap untuk bertualang, dia memaksa untuk ikut mendaki. Rengekan yang membuat si Kriwil pun tergoda dan mulai merajuk agar diajak serta bertualang ke atas bukit yang menyimpan banyak cerita masa; Bukit Lamreh.

bukit lamreh, sejarah kusultanan Aceh, jejak sejarah Aceh

Menikmati samudera dan Seulawah dari atas Bukit Lamreh (dok. Aceh Adventure)

Bersyukur tak banyak yang bertandang ke sini sehingga aku dapat menikmati bukit sepuas hati. Serasa berada di pekarangan rumah sendiri yang luaaassssss. Berlari menuruni bukit karang yang dilapisi rerumputan hijau dengan pepohonan yang menepi membuatku teringat pada Laura Ingals dengan padang rumputnya dan Heidy dengan kambing-kambing temannya bergurau.

Bisa jadi karena datang di hari biasa, seperti kata Ibu Pengutip Kerang di Indra Patra yang kutemui dua bulan lepas; benteng dan sekitarnya hanya ramai kala kaki-kaki pengunjung berkeliaran di akhir petang. Saat itu mereka tak akan mengutip kerang tapi menawarkan air mineral dan teman-temannya.

Di tanah tempat kesultanan Aceh bermula, di pucuk Lamreh, kita berkeliaran tanpa ada yang mengganggu. Inilah Lamreh, inilah Aceuh Rayeuk, yang dahulu dikenal sebagai Aceh, Achem, Achen, Dacin atau Atje; nama yang dilekatkan seturut bahasa mereka yang menambatkan kapal di Teluk Aceh. Bahkan seorang pejalan dari Inggris, John Davis, yang menjejak di Aceh pada 1599 menyebutnya seperti suara bersin, Achien. Dalam catatan perjalanannya dia pun menyebutkan bahwa penasehat utama dan laksamana sang raja pada masa itu adalah seorang perempuan karena raja tak mempercayai laki-laki.

Melihat Kriwil dan abangnya berlarian di bukit, teringatlah masa engkau bermain di pelataran Benteng Inong Balee, Cut Dek. Masihkah tersimpan ingatanmu pada perjalanan masa kecilmu dahulu? Tahukah engkau perempuan yang disebut-sebut Davis adalah IBU? Perlu pula kau ketahui kakek buyutmu adalah peletak dasar Kesultanan Aceh Darussalam yang bercikal dari Lamuri, tempat kita sedang memandang luasnya samudera dan kokohnya Seulawah tegak di depan mata. Kakek, Ayahanda dan Bundamu, laksamana yang memimpin armada laut kerajan pada masanya. Dedikasinya pada kaumnya, membuat Bunda mengambil keputusan untuk membangun kekuatan dengan mengumpulkan dan melatih para janda prajurit yang gugur bersama Ayahandamu pada pertempuran melawan Portugis di Laut Haru. Diberinya nama pasukan khusus itu, Laskar Inong Balee.

bukit lamreh, jejak sejarah aceh, sejarah kesultanan aceh, laksamana malahayati, inong balee

Ayah, Abang dan Kriwil di Puncak Bukit Lamreh

Aaaah … terlalu lama bebatuan ini hanya diam menyimpan kisah perjalanan masa yang semestinya bisa kita bincangkan bersama agar tak hilang ditelan masa. Taklah dapat kupungkiri, negeri ini terlalu indah untuk sekadar dipandangi. Hauslah ia untuk diselami hingga ke akarnya.

Cut Dek, anakku sayang, harapan Ayahanda dan Ibunda. Dengarkan pesanku, di mana pun kau berada, di mana pun tanah kau pijak, haruslah kau dapat menjaga apa yang telah Bunda sampaikan padamu sebagai sebuah bekal hidupmu kelak. Jadilah seorang yang berakal dan berbudi agar mulialah hidupmu pada masa nanti – [Perempuan Keumala, 127]

kuala cut, pantai indah di aceh, tempat surfing di aceh, laksamana malahayati, jejak sejarah aceh

Semoga di satu masa, kalian kan mampu bercerita pada generasi masa

Matahari menyemburkan jingganya di garis batas laut. Bersendiri di bibir Kuala Cut, kudendangkan syair merindu pada buih-buih ombak yang berarak ke pantai, pada angin yang bersiul perlahan, pada cakrawala yang menyimpan berjuta rahasia alam. Apa kabarmu Cut Dek? Kemana aku harus mencari jejakmu bila engkau ada di dalam jiwa? Saleum [AdminPK].

Teurimong gaseuh sudah menemani berjalan: