Tags

, , , ,

Malam ini kami sampai di sini. Tak jauh dari tempat Teuku Umar dimakamkan.

Langit seolah menangisi peristiwa ini … lama aku tak mendengar desah hujan sederas dan sehalus ini selama hampir setahun. Tak biasa memang. Sepanjang Banda Aceh – Meulaboh .. nafasku beberapa kali tertahan, dan hampir-hampir lupa aku hembuskan kembali. Begitu memukau langit dan isi hamparan di sepanjang pelupuk mata memandang. Apa yang tersimpan di balik ini semua? Entah ..

monolog cut nyak dien, sha ine febriyanti, cut nyak dien, teuku umar, makam teuku umar

Sha Ine Febriyanti pada pementasan monolog Cut Nyak Dien di Teater Kecil Jakarta, TIM (16/01/2016) lalu

Teuku, Teuku Umar ..  nama yang selalu kugaungkan di setiap panggung perempuan yang dulu pernah menjadi kekasihmu. Wahai Teuku, barangkali ini bukan saat yang tepat untuk kami berkunjung ke makammu. Matahari sudah beranjak tenggelam sejak lama. Langitpun masih melelehkan airmatanya. Kamipun tak punya peralatan cukup untuk menembus gelap dan hujan. Tapi kami tak punya lagi waktu. Esok pagi kami harus beranjak pulang ke Kutaraja .. tempat dimana engkau melakukan sandiwara selama bertahun-tahun menjadi kawan musuh, tempat kau pendam ego dan batinmu demi perjuangkan tanah dan rakyatmu.

Aku harus kembali, ke Jakarta esok hari.
Teuku Umar .. ijinkan aku menghampirimu sekarang, mewakili rasa rindu yang ratusan tahun lalu terhalang, oleh sesak sakit dan airmata ..

11 Desember 2015, 19.45

*****

Ditulis oleh Sha Ine Febriyanti saat berkesempatan mengunjungi Aceh di penghujung 2015 untuk pementasan teater monolog Cut Nyak Dien dan menyempatkan untuk mengunjungi beberapa jejak perjalanan Cut Nyak Dien termasuk ziarah ke makam Teuku Umar di Meulaboh. Dipublikasikan di sini atas seijin penulisnya, saleum [AdminPK].