Tags

, , , ,

Ketika Portugis menguasai Malaka pada 1511, lalu lintas dagang antar samudera pun mengalami sedikit peralihan. Untuk sampai ke barat, jalur lada yang sebelumnya melalui Laut Merah dan Tengah, berpindah melewati Tanjung Harapan yang memberikan keuntungan bagi Portugis yang juga menduduki wilayah di Afrika Selatan itu. Tak ingin berhadapan dengan Portugis di pelabuhan Malaka, kapal-kapal asing itu memilih untuk memutar jalur melewati Sumatera. Kabar baiknya adalah, pelabuhan-pelabuhan di Sumatera menjadi ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari Arab, Cina, India, Jawa, Melayu; termasuk juga kapal dagang Eropa.

meriam secupak, museum nasional, turki di aceh, pentas dongeng teater koma

Selama Portugis menduduki Malaka, Aceh beberapa kali menyerang Malaka. Aceh yang sedang ranum sebagai penghasil lada, merica, dan emas, menjadi buah bibir di kapal-kapal dagang asing. Karenanya dalam setiap pelayaran, mereka pun berkeinginan untuk menghampiri pelabuhan dagang yang ada di ujung utara Sumatera itu. Pada masa itu, Aceh masih terpecah-pecah dalam kerajaan-kerajaan kecil dengan dua pelabuhan terkenalnya yang menjadi incaran para pedagang asing: Pasai dan Pedir (sekarang Pidie). Portugis tentu saja ikut melirik dan sempat menguasai Pasai hingga diusir oleh pasukan Ali Mughayat Syah yang diyakini sebagai pendiri Kesultanan Aceh dan yang pertama kali menggempur serta membuat armada Portugis kocar-kacir di perairan Malaka.

Pada 1564 Aceh yang telah menjalin persekutuan dengan Kesultanan Turki sejak 1530an, mengirimkan beberapa utusan untuk menjumpai Raja Suleiman, Sultan Turki, meminta bantuan meriam untuk dipakai menggempur Portugis. Ada satu cerita menarik ketika para utusan Aceh ini sampai di Turki, mereka tak langsung dapat bersua dengan Sultan Turki karena ribetnya protokoler istana. Lamanya penantian membuat mereka terpaksa menjual sedikit demi sedikit upeti berupa lada yang mereka bawa untuk menyambung hidup di negeri orang. Ketika akhirnya tiba giliran mereka untuk bersua dengan Sultan, sisa lada yang mereka bawa ke istana tinggal sedikit sekali ( = secupak). Beruntunglah mereka, Raja Suleiman yang baik hati tidak mempermasalahkan banyaknya oleh-oleh lada yang dibawa padanya. Diberinya mereka beberapa meriam untuk dibawa pulang ke Aceh. Untuk memperingati peristiwa bersejarah itu, salah satu meriam kemudian diberi nama Si Cupak yang diambil dari kata secupak.

meriam secupak, museum nasional, turki di aceh, pentas dongeng teater koma

Kisah Si Cupak dan kawan-kawan semasa perang antara Aceh, Portugis dan Johor; menjadi sebuah sajian yang menarik ketika ditampilkan dalam pentas dongeng dengan tema Ke Mana Angin Bertiup ke Sana Meriam Ditunjuk. Pentas dongeng ini dibawakan oleh para pemain Teater Koma di Museum Nasional, Jakarta pada Minggu (25/07/2016) lalu. Perjalanan sejarah yang dibawakan dengan ringan dan diselingi dengan lelucon ini dipenuhi penonton dari berbagai umur yang memenuhi pelataran tengah Museum Nasional di tiga kali pertunjukan hari itu. Dongeng adalah salah satu sajian kesenian yang menarik pengunjung untuk datang ke museum yang dikemas dengan konsep edutainment.

Usai menonton, pengunjung pun diajak mencari benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan cerita yang baru saja dipentaskan dengan menggunakan peta harta karun ditemani pemandu museum yang mengenakan busana syahbandar Aceh. Pentas dongeng ini dipentaskan sebulan sekali dengan tema cerita yang berbeda, diprakarsai oleh Pekan @Museum bekerja sama dengan Teater Koma dan Museum Nasional telah berlangsung sejak 2013.

Orang yang tidak belajar sejarah akan dilibas sejarah – #TeaterKoma

Aceh tak sekadar bisa meminta bantuan meriam saja karena lambat-laun Aceh bisa membuat sendiri meriam-meriam yang diproduksi besar-besaran untuk keperluan perang. Dari mana pengetahuan membuat meriam itu? Tentu saja didapatkan dari para cerdik pandai yang dikirimkan oleh Turki sebagai bentuk terjalinnya hubungan harmonis antara Aceh dengan Turki. Jejak Turki di Aceh masih dapat dijumpai di Gampong Bitay, tempat orang-orang utusan dari Turki dahulu bermukim. Aceh mencapai puncak kejayaanya semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah selama 30 tahun (1607-1636). Setelahnya, kekuasaan Kesultanan Aceh perlahan redup. Saleum [AdminPK].