Surat untuk Nay

Tags

, , , , ,

Saya bukanlah pengamat film yang baik, dengan kesepuluh jari tangan dapat dihitung berapa kali dalam setahun kaki ini melangkah ke bioskop. Bagi saya, duduk diam di dalam gedung pertunjukan menyelami permainan karakter di atas panggung atau turut bergirang ketika menonton konser paduan suara lebih menarik. Namun, perjumpaan dengan seorang sahabat yang berbagi kisah seorang kawan perempuan yang terzalimi; ditambah pertemuan dengan pemeran Nay dalam sosok yang berbeda serta melihat senyum Mama Ben semalam, menggerakkan hati untuk membuat ulasan tentang #filmNay di sela tumpukan deadline di atas meja.

filmnay_11

Nayla Kinar diperankan oleh Sha Ine Febriyanti

Pagi itu saya sedang bersendiri menikmati hening di Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh saat mendapati kepastian hadirnya #filmNay di bioskop. Continue reading

Pesan Ibu

Tags

, , ,

Ada satu masa dimana sebuah nama bisa sangat berpengaruh di dalam kehidupan seseorang. Masa ketika dirinya menemukan kesenangan, pencerahan, kegirangan, dan semangat hanya karena nama itu terdengar atau terucap. Namun, sebuah nama bisa pula menjadi momok yang mengerikan bagi seseorang karena sang empunya nama telah menorehkan kenangan yang membuat hatinya sakit. Mau pilih yang mana, serahkanlah itu pada hatimu untuk memilah kesenangannya.

Eileen Rachman, Jadilah Warga Dunia

Book Signed

Pernah ada satu masa ketika isi kepala masih lebih girang memikirkan yang senang-senang saja. Masa ketika saya kuliah dan tinggal di rumah Om Tante di Bandung. Continue reading

Cut Nyak Dien Pulang ke Nanggroe

Tags

, , ,

Oliiiiiiive, kamu mau nonton Cut Nyak Dien full 40 menit nggak? 30 September di GBB TIM pk 8 mlm

Pesan dari Sha Ine Febriyanti melalui WhatsApp yang menggetarkan gawai di jam istirahat siang itu membuat hati bergetar. Di saat yang bersamaan, jemari bersiap membuka gawai untuk mengirimkan beberapa kata kepada si pengirim pesan. Nah lhooo, kontak bathinkah?

Setelah Menyelami Hati Cut Nyak Dien lewat potongan dua babak Monolog Cut Nyak Dien di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki pada minggu kedua Januari lalu; rasa penasaran untuk menikmati energi yang dipancarkan oleh Perempuan Berhati Baja secara utuh selalu menggelitik. Rindu yang akhirnya terpenuhi pada Rabu (30/09/2015) lalu.

Ada yang berbeda dalam pementasan kemarin, bukan karena tuturan yang tak terputus, pula tata panggung dan pencahayaan yang dimainkan dengan baik membuat pergantian babak lembut dan tegas. Sempat hadir sorotan cahaya berlangsung sepersekian detik tidak pada tempatnya, namun hal itu mungkin hanya bisa dirasakan oleh mata dan hati yang tak berkedip, melekat pada sosok di atas panggung. Continue reading

Belajar dari Kasturba

Tags

, ,

Ada satu ungkapan yang acap kali membuat perempuan bersemu merah, bangga, dan menjadi bersemangat ketika dilontarkan. Namun, bila melihat kenyataan yang terjadi di masyarakat belakangan ini, maka ungkapan tersebut laksana pisau bermata dua. Bukan saja membanggakan tapi dapat pula menjadi penanda keserakahan. Behind a great man, there is a great woman.

mahatma gandhi, istri mahatma gandhi, kasturba, kasturbai gandhi

Gandhi dan Kasturba (sumber Kasturba Gandhi)

Gandhi The Man mengalihkan perhatian saat sedang merapikan isi lemari buku untuk menyisihkan waktu sejenak, membolak-balik (kembali) lembarannya. Ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari catatan perjalanan Mahatma Gandhi, dalam  buku yang ditulis oleh Ekhnath Easwaran ini. Pelajaran yang dapat dijadikan cermin bagi setiap jiwa yang punya niat kuat untuk menikmati hidup dengan ketenangan dan kedamaian yang selalu lekat di hati. Kenapa mesti diniatin? Karena pilihan jalannya tak mudah untuk dijalani.

Continue reading

The Hidden Dancer

Tags

, , , , ,

terang bulan, terang bulan di kali
buaya timbul disangkalah mati
jangan percaya mulutnya lelaki
berani sumpah tapi takut mati

Syair lama yang populer pada era 50an. Syair yang pernah menjadi polemik negara serumpun Malaysia dan Indonesia beberapa tahun lalu itu, dinyanyikan dengan lidah cadel oleh seorang anak perempuan yang belum cukup lima tahun di depan sekumpulan manusia dewasa. Dia sangat bersemangat.

penari, kosmologi tari

Tari adalah ekspresi jiwa

Ketika gerak dan suaranya tiada henti membuat kami terkesima, Opanya bersuara,”dia menghafalkannya, saat menonton Tjokro.” Berbeda ya, cucu budayawan. Di kala teman sebayanya diantar orang tua mereka mengantri Avengers: Age of Ultron atau Cinderella, dirinya melahap Guru Bangsa Tjokroaminoto. Merekam gerak tari dan menghafal syair Terang Bulan yang mengiringi keluarga pak Tjokro menari di beranda rumah mereka. Continue reading

Ikrar Generasi Aceh untuk Teruskan Semangat Juang Laksamana Malahayati

Tags

, , , , ,

Setiap menjelang 21 April; semua orang terlihat sibuk dengan persiapan perayaan hari Kartini. Ibu – ibu pekerja kantoran membongkar koleksi pakaian (bahkan pergi berbelanja ke butik) untuk menemukan busana yang akan dikenakan di hari tersebut agar temanya tak melenceng dari busana Kartini. Para ibu muda yang memiliki anak di bangku Taman Kanak-Kanak pun tak kalah sibuk mencarikan kostum lomba untuk anaknya.

Di antara semaraknya linimasa dengan ragam gambar kegiatan seputar perayaan hari Kartini, sebuah pesan saya terima semalam dari Komunitas I Love Aceh yang ditautkan dengan berita kegiatan mahasiswa pada hari tersebut. Sebuah gebrakan digelar oleh BEM FISIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh di Benteng Inong Balee pada Selasa, 21 April 2015. Lewat beberapa gambar dan kegiatan yang diunggah melalui akun @BEMFISIPUNSYIAH, terbaca tujuan kegiatan tersebut, Meneladani Sang Kreator dan Inovator: Laksamana Keumalahayati.
Continue reading

Gembok Asa

Tags

, , , ,

Wattaaaa surprise! Tak terbayangkan sebelumnya mimpi untuk menggapai Puncak Bendera akan tercapai senja itu. Menyimak lembaran kegiatan yang cukup padat, sejak terbang ke Penang; Bukit Bendera (sekarang Penang Hill) hanya diselipkan di sela angan. Kalaupun nanti tak sempat, masih ada esok untuk menggapainya. Namun senja itu, Tuhan menjawab setitik asa yang disematkan di dalam hati.

penang hill, bukit bendera penang, kereta ke penang hill

Terowongan buatan 1922 yang dilintasi menuju puncak Penang Hill

Lima menit perjalanan dengan kereta cepat yang berlari di atas bantalan rel yang menanjak, melewati terowongan dengan pemandangan yang menakjubkan untuk menggapai stasiun puncak; dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Dataran Penang Hill. Continue reading

Setetes Asa di Pulau Galang

Tags

, , , , ,

Ibadah terakhir telah lama usai, namun Kim tak pernah mau beranjak dari tempat duduknya. Sebuah bangku panjang di deretan tengah, tempat di mana matanya dapat memandang dengan leluasa mereka yang melangkah ke dalam Tin Lanh. Tempat darimana badan mungilnya pun dapat memandang utuh salib yang tergantung di dinding depan, di belakang mimbar. Bangku yang didudukinya pada ibadah terakhir yang dihadirinya bersama sahabatnya, Huang.

pulau galang, pengungsi vietnam, manusia perahu

Sebuah salib yang tertinggal di meja altar di dalam Immaculate Conception Mary Church, gereja katolik di Pulau Galang

Mukanya ditekuk dalam-dalam, tangannya meremas-remas ujung kemeja yang kusut dan kumal, berubah warna karena terlalu sering dikuceknya. Matanya sembab, sedih, sesal dan amarah campur aduk terpancar di wajah tirusnya. Asanya pupus. Continue reading

Menyelami Hati Cut Nyak Dien

Tags

, , ,

Perempuan di ujung senja itu tertatih menyeret langkah ke sudut gubuknya. Derit pintu reot dan desah resahnya memecah pagi yang senyap. Rindunya teramat dalam, sedalam sepi yang menemani perjalanan panjangnya. Dia yang tercerabut secara paksa dari akarnya, meradang bergelut asa. Meski matanya sudah rabun, namun kepekaan rasanya belumlah susut.

Sha Ine Febriyanti, Cut Nyak Dhien, Teater Cut Nyak Dhien, Malahayati

Cut Nyak Dhien

Terduduk dalam gelap pandangan, hatinya merintih, rindunya bergelora pada tanah negerinya. Perempuan perkasa yang keras hati itu, tergugu tanpa daya.

Continue reading

Henriette Hutabarat Lebang, Perempuan Pembaharu Budi

Tags

, , , , , , ,

We are called to prophesy, reconcile and heal … i’ll try to walk with you, and God will open the way for us if we trust in HIM – [Rev. Henriette Hutabarat-Lebang]

Malam semakin pekat saat sosok tinggi besar yang dibalut baju hangat berwarna gelap itu menyusuri gang dalam badan bus yang dingin. Ada sesuatu padanya yang membuat mata mengikuti langkahnya hingga berhenti di samping bangku dan meminta ijin untuk masuk ke sisi sebelah jendela. Memori dipacu untuk berputar ke satu masa mencoba memindai siapa gerangan sosok perempuan yang akan menjadi teman berbagi bangku selama 8 (delapan) jam perjalanan ini?

ery lebang, henriette lebang, henriette hutabarat lebang, ketua pgi

Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang

Wajahnya tak asing, ragu melayangkan ingatan pada sosok perempuan di satu masa dengan Honda C70 merahnya yang sering berkeliaran di sebuah kota kecil di dataran tinggi Toraja. Continue reading