Menyelami Hati Cut Nyak Dien

Sha Ine Febriyanti, Cut Nyak Dhien, Teater Cut Nyak Dhien, Malahayati

Perempuan di ujung senja itu tertatih menyeret langkah ke sudut gubuknya. Derit pintu reot dan desah resahnya memecah pagi yang senyap. Rindunya teramat dalam, sedalam sepi yang menemani perjalanan panjangnya. Dia yang tercerabut secara paksa dari akarnya, meradang bergelut asa. Meski matanya sudah rabun, namun kepekaan rasanya belumlah susut. Terduduk dalam gelap pandangan, hatinya merintih, … Continue reading Menyelami Hati Cut Nyak Dien

Perempuan Berhati Baja itu Bernama, Cut Nyak Dien

"Perempuan Aceh pantang meneteskan air mata untuk orang yang syahid di medan perang, bangkitlah! Perjuangan kita masih panjang." Kata-kata penyemangat itu mengalir dari bibir seorang perempuan perkasa dari Lampadang ketika mendapat kabar suami tercinta gugur di medan perang kepada anak semata wayangnya. Disimpannya tangis rapat-rapat di sudut hatinya, tak ditunjukkan kepada putrinya. Sebagai Ibu, dirinya … Continue reading Perempuan Berhati Baja itu Bernama, Cut Nyak Dien

Senja di Tanah Merdeka

Senja perlahan turun di ufuk barat. Di ujung dermaga tiga bayang perempuan berdiri dalam gelisah memandang jauh ke laut lepas. Hmmm … dari belakang sosoknya seperti tak asing, dari bahasa tubuhnya kutebak mereka ibu dan anak. Perlahan kudekap Yamaha yang lama terdiam dalam sepi. Membelai permukaan kulitnya dengan lembut, memetik dawainya dengan sepenuh rasa, mencoba … Continue reading Senja di Tanah Merdeka