Aku Laksamana Keumalahayati

Aku ingin berbagi kisah …
Kisah satu malam di atas geladak kapal milik armada Belanda yang sedang berlabuh di pelabuhan lada, Bandar Darussalam.
Malam itu … 11 September 1599 di tengah jamuan makan malam, Pasukan Inong Balee dibawah komando Laksamana Keumalahayati memimpin pasukan Aceh menyerang dan menggempur armada Belanda dari laut dan darat.

******

Dengan cekatan Keumala memotong tali penggantung obor di geladak. Api tanpa terkendali menjilat taplak meja, semakin membesar ketika menjalar ke tempayan arak dan anggur. Api berkobaran dimana-mana, lidah panasnya menelan apa saja yang ditemui. Belum lagi bola-bola api yang ditembakkan dari daratan, geladak menjelma bagai neraka panas. Pasukan Belanda melawan Armada Inong Balee dan pasukan darat Panglima Nausa yang tanpa gentar menyerang. Geladak yang sedianya tempat pesta kini menjadi arena pertempuran, dalam kobaran api yang ganas menyala-nyala.

“Aaah … ” Keumala terpekik ketika pedang tajam Cornelis menggores lengan kanannya. Luka besar menganga. Pedang di tangan tercampak jauh darinya. Cornelis terbahak melihat ringisan Keumala.

“Perempuan, lebih enak kita bergumul di tilam saja. Daripada kau sibuk melawan … Hahaha …!” pekiknya keras.

Yuma yang berhasil menusuk mati lawannya, seorang laki-laki Belanda tinggi besar, berada tak jauh dari mereka. Hatinya geram mendengar kape itu merendahkan tuannya. Segera ia mengambil anak panah dan melesatkannya ke arah Cornelis.

laksamana malahayati
Laksamana Keumalahayati menyarungkan kerisnya ke perut Cornelis de Houtman hingga tewas dalam Pentas Teatrikal Rekonstruksi Malahayati di Museum Bahari, Jakarta (24/11/2012) lalu

Laki-laki itu terkejut, tercampak pula pedangnya. Anak panah hanya menggores pipi kirinya. Tidak tepat sasaran kiranya, namun cukup dalam juga lukanya. Darah mengucur dari pipi laki-laki kulit putih itu. Ia menatap Keumala dengan tatapan mata nyalang penuh amarah.

Ia menyerang Keumala dengan segera, mengejar perempuan yang sedang berusaha melompat ke atas haluan kapal. Belumlah sempat tiba di haluan, laki-laki itu telah berhasil menangkap tangan kiri Keumala. Perempuan itu terjatuh dalam pelukannya. Keumala meronta sekuat tenaga walau tetap tanpa suara. Cornelis segera memutar tangan itu hingga dia kini berada di belakangnya. Keumala terpekik, terasa tangan kirinya nyeri terpuntir ke belakang. Patahlah kiranya lengan kiri dirasa. Sementara, luka lebar pada lengan kanannya semakin terasa pedih dan terus mengucurkan darah. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, peluh deras yang menetes-netes jatuh di matanya membuat pandangan menjadi kabur. Napasnya tersengal-sengal, nyaris putus terdengarnya.

Cornelis masih berada di belakangnya. Tangan laki-laki itu masih memuntir dan mencengkeram tangannya. Bibir laki-laki itu tepat berada di pipi kanannya. Darah dari pipi laki-laki itu melekat pula di telinganya. Semakin muak hatinya, mual lambungnya ketika napas laki-laki itu terdengar memburu di telinga kanannya.

Laksamana Malahayati
Aku Laksamana Keumalahayati
Pentas Teatrikal Rekonstruksi Malahayati di Museum Bahari, Jakarta (24/11/2012) lalu

Dengan rasa perih dan nyeri di sekujur tubuhnya, perlahan tangan kanan Keumala meraba keris yang masih tersemat di pinggangnya. Cornelis lengah karena ia masih memejamkan mata menikmati aroma tubuh Keumala, lawan seteru yang kini dalam genggamannya. Suaranya mendengus bagai seekor anjing yang sedang mengendus tulang. Keduanya terhenti. Keumala pun memejamkan mata, membiarkan laki-laki itu untuk menjadi semakin lengah. Kesempatan baginya untuk mengumpulkan kembali segala kekuatan. Dihilangkan segala rasa sakit yang semakin menjalar, dengan gerakan yang sangat halus Keumala mencabut keris dengan tangan kanannya. Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, Keuamala tiba-tiba meronta, membalikan tubuhnya, segera merunduk, dan langsung menghunuskan kerisnya tepat di perut laki-laki itu.

“Aaah …” Lengking suara seorang Cornelis de Houtman terdengar sangat keras dari atas haluan kapal. Nyawa terlepas dari tubuhnya yang fana. Keumala menghela napas, kemudian memejamkan mata. Keris masih tergenggam di tangannya. Entah berapa nyawa lagi harus melayang darinya ….

“Aku Laksamana Keumalahayati …”

Perempuan Keumala, hal 339 – 342

2 thoughts on “Aku Laksamana Keumalahayati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s