Tags

, , ,

Setelah gagal melihat wajah IBU di Pagelaran Seni Budaya Aceh dan Pameran Lukisan Memperingati 9 Tahun Smong di Mess Pemerintah Aceh,  Jakarta bulan Desember 2013 lalu, Minggu (12/01/14) pagi terbangun dengan satu kerinduan dan panggilan untuk menjumpai IBU di Bahari.

malahayati

Lukisan Malahayati karya Mas Padhik yang dipamerkan di Mess Aceh, sayang tak sempat dilihat langsung

Hujan yang betah membasahi kota Jakarta sejak pagi sempat hadirkan keraguan untuk melangkah, namun tarikan itu terlalu kuat untuk dihentikan. Kaki pun diayun mengikuti hasratnya menuju utara Jakarta setelah mendapat kabar bahwa di kawasan kota hujan sudah reda disaat hujan angin tak henti turun di selatan Jakarta.

Langit Jakarta masih diselimuti mendung kala kaki perlahan menyusuri Jl Cengkeh – Jl Tongkol sembari sesekali berlari kecil menghindari kolam-kolam kecil di tengah jalan agar tak kecipratan air yang menggelepar dicumbu roda kendaraan tanpa perasaan. Gegara abang bajaj yang kepedean hendak menghantarkan ke Musium Wayang, pada akhirnya jalan kaki juga menuju Bahari. Ngapain juga naik bajaj jika hanya melangkah dari Musium Bank Mandiri ke Musium Wayang?

Pk 13.30 kaki menjejak di Musium Bahari, dari tanya-tanya sama mbak petugas dapat konfirmasi kalau jam operasional hingga pk 16.00. Alhamdulillaaaah, tadi buru-buru karena takut hanya buka hingga pk 14.00. Akhirnya, kembali menjejak di tempat yang terakhir kali dikunjungi kala menghadiri pentas Teatrikal Malahayati di pelataran belakang musium akhir Nopember 2012 yang lalu.

laksamana malahayati

IBU Laksamana Malahayati

Usai membayar tiket masuk, fokus ke tujuan utama ikuti langkah ke tempat IBU menanti. Sempat terpikir untuk memotong alur masuk musium tapi dihalangi petugas keamanan, mesti mengikuti alur masuk dari ruangan di sisi kanan gedung. Ikuti arahan, ternyata akses ke lantai tempat IBU berada tertutup dan pintu kayu yang menutupnya sangat berat untuk digeser. Terpaksa turun ke pelataran belakang, menerobos police line untuk naik ke lantai dua yang aksesnya ditutup karena ada renovasi.

Ruang pengap ini tak melukiskan kebesaran para pendahulu yang menempatinya secara beramai-ramai. Namun tetap ada bangga di hati melihat IBU berdiri gagah diapit oleh Sultan Agung dan Pangeran Antasari. Aaaaaaaaah, berbahagialah engkau para perempuan melihat seorang perempuan gagah berani berada di antara jejeran lelaki nan perkasa.

laksamana malahayati

Sebuah persembahan untukmu IBU, Perempuan Keumala

Rasa bangga itu kembali membuncah ketika memasuki ruangan para navigator dunia. Gambar sosok perempuan yang disejajarkan dengan 7 (tujuh) lelaki petualang dunia di depan pintu masuk jelas-jelas menunjukkan IBU adalah  sosok perempuan yang tak biasa.

laksamana malahayati

IBU diantara penjelajah dunia, diapit oleh Pangeran Fatahillah dan Vasco da Gama

laksamana malahayati

Ruangan yang menggambarkan siapa Laksamana Malahayati serta duelnya dengan Cornelis de Houtman

Untuk sebuah penghargaan kepada para pendahulu, bolehlah tempat ini dijadikan sebagai sumber untuk mencari inspirasi. Sayang, tak banyak yang tertarik untuk melirik sejarahnya meski di setiap ruang tergeletak buku potongan kisah perjalanan para pendahulu ini. Sekelompok perempuan muda yang datang dengan topi lebar ala noni Belanda hanya asik beradu gaya mengambil gambar diri di depan patung Dampier, Cook dan Blight; tiga penjelajah Inggris yang berada di sisi kiri ruangan IBU. Usai pose, mereka melenggang pergi meninggalkan jejak tawanya di ruangan yang kembali senyap [Admin_PK].